Suara yang hilang 12/10/2011
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menolak Parliamentary Thresold 5%. Sekretaris PPP di DPR Muhamad Arwani Thomafi, mengatakan jika PT ditetapkan 5%,maka 32 juta akan hangus. Menurut Arwani jika PT 5% ditetapkan, maka total suara yang dikonversi menjadi kursi di DPR tidak sampai 50%. Angka Golput 30% juga diperkirakan akan meningkat. Sekretaris PKB di DPR, M. Hanif Dhakiri mengingatkan bahwa dengan angka PT 2,5% saja, pada Pemilu 2009 suara pemilih terbuang lebih dari 19 juta. Jika PT 5% diterapkan pada Pemilu 2014, maka suara pemilih yang hilang akan menjadi 33 juta. Rakyat sebenarnya tidak mempermasalahkan berapa banyak partai yang ikut Pemilu. Jika para pendahulu kita di tahun 1955 yang sebelumnya tidak pernah mengenal Pemilu dapat sukses mengikuti Pemilu yang pesertanya banyak, kenapa kita yang sudah lebih maju tidak bisa. Tetapi, rakyat juga bosan dengan politik dagang sapi yang terang-terangan terlihat. Presiden tidak mampu menggunakan hak pregoratifnya dengan baik karena bertoleransi pada partai koalisi, padahal presiden adalah pilihan langsung rakyat. Partai peserta pemilu, boleh saja banyak, tetapi yang hadir di DPR harus tetap dengan jumlah yang efektif. Masalah suara yang hilang, sebenarnya dapat diatasi jika UU Pemilu memperkenankan sistem merger. Sistem merger berbeda dengan penggabungan suara, dengan penggabungan suara masing-masing partai masih tetap eksis, tetapi dengan sistem merger, partai-partai yang akan memergerkan diri akan membentuk satu partai baru yang permanen. Dengan demikian, akan ada penyederhanaan partai dalam jangka panjang. Selama ini, banyak partai di Indonesia sungguh ironis. Partai-partai yang berbeda hanya berbeda sedikit logo dan warna saja, tetapi apa beda visi dan misinya sungguh tidak jelas. Variasi partai hanyalah variasi kendaraan bagi para politisi untuk mencari peluang daya tawar untuk mendapatkan kursi, proyek dan akhirnya uang. Oleh karenanya, PT 5% dengan opsi merger adalah hal yang patut didukung dan diperjuankan. Add Comment Regenerasi di Parpol 11/04/2011
Taufik Kiemas lagi jadi bahan perbincangan. Politisi tua dari PDIP melontarkan bahwa Capres PDIP 2014 bukan Megawati Soekarnoputri lagi. Reaksi pun bermunculan. Sejumlah kader PDIP di Jawa Timur mengancam tidak akan memilih PDIP jika Megawati digantikan. Sebaliknya ada juga yang menuding, PDIP lagi cari perhatian. Taufik Kiemas mengenangkan kembali, bahwa kita pernah menertawakan Soeharto menjadi capres pada saat usianya 70 tahun. Padahal pada 2014 nanti, Prabowo akan berusia 63 tahun, Aburizal Bakrie 68 tahun, Wiranto 67 tahun, Jusuf Kalla 72 tahun, Hatta Rajasa 61 tahun, dan Megawati sendiri 64 tahun. Mandulnya regenerasi kepemimpinan menurut Maswardi Rauf karena adanya budaya patrimonialisme. Seorang bapak (ibu Megawati) mendapatkan dukungan karena daya tarik kharismanya sehingga dia didukung untuk memimpin dengan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat yang amat besar. Besarnya kepercayaan menyebabkan membuat pandangan yang dianut pemimpin dianggap selalu benar. Setiap orang harus mematuhi apa pun yang diputuskan pemimpin. Pemimpin tidak mempunyai pesaing. Kritik tidak layak diajukan kepada pemimpin. | AuthorGhobro adalah putra pauhranap riau. Menulis blog di hosting gratis tapi elegan. ArchivesDecember 2011 CategoriesAll |

RSS Feed