Batak di Malaysia dan Filipina 11/12/2011
Ichwan Azhari, Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed) pada situs karo.or.id menyatakan bahwa dari hasil penelitiannya terhadap arsip misionaris di Wuppertal, Jerman dan arsip KITLV Belanda serta hasil wawancara pakar Batak di Jerman dan Belanda seperti Johan Angerler dan Lothar Schreiner menemukan bahwa kata Batak pada awalnya diambil para musafir/misionaris barat dari para penduduk pesisir.yang berkonotasi negatif dan cenderung menghina dengan pengertian kurang beradab, liar dan tinggal di hutan. Pada sumber-sumber manuskrip klasik yang ditelusurinya, seperti manuskrip abad 17 koleksi Leiden juga ditemukan kata Batak di kalangan orang Melayu di Malaysia. Penyebutan itu sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Saat Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511), Puteri Gunung Ledang yang sangat dihina dan direndahkan oleh teks ini, melarikan diri ke hulu sungai dan dalam teks disebut : “masuk ke dalam hutan rimba yang amat besar hampir dengan negeri Batak.Maka diambil oleh segala menteri Batak itu, dirajakannya Puteri Gunung Ledang itu dalam negeri Batak itu.” Tidak hanya di Malaysia, di Filipina juga penduduk pesisir menyebut penduduk pedalaman dengan streotip atau label negatif sebagai Batak. Untuk itu menurut Ichwan, cukup punya alasan dan tidak mengherankan kalau peneliti Batak terkenal asal Belanda bernama Van der Tuuk pernah risau dan mengingatkan para misionaris Jerman agar tidak menggunakan nama Batak untuk nama etnik karena imej negatif yang terkandung pada kata itu. Di Malaysia dan Filipina penduduk yang diberi label Batak tidak mau menggunakan label merendahkan itu menjadi nama etnik mereka, ujarnya. Sedangkan di Sumatra Utara label itu terus dipakai karena peran misionaris Jerman dan pemerintah kolonial Belanda yang memberi konstruksi dan makna baru atas kata itu, ungkapnya. Dalam penelitiannya di arsip misionaris Jerman di Wuppertal sejak bulan September 2011, Ichwan Azhari melihat para misionaris sendiri awalnya mengalami keragu-raguan untuk menggunakan kata Batak sebagai nama etnik.Jika dipersamakan dengan di eropa, kata Batak dalam istilah Melayu sebenarnya sama dengan kata Barbar dalam istilah eropa. Oleh karenanya, dengan kemajuan yang telah dicapai oleh orang Suku Asli Sumatera Utara (SASU) maka PELABELAN BATAK sudah seharusnya dikurangi. Add Comment | AuthorGhobro adalah putra pauhranap riau. Menulis blog di hosting gratis tapi elegan. ArchivesDecember 2011 CategoriesAll |
RSS Feed