• Home
  • Politik
  • Ekonomi
  • Sosial
  • Administrasi
  • Ghobro
  • Wiki Ghobro
Benarkah Batak dan Dayak tergolong rumpun Proto Melayu 11/20/2011
3 Comments
 
Kalau kita membaca banyak buku yang beredar dan blog yang online tentang Batak dan Dayak, maka kita akan sering menjumpai penggolongan orang Batak dan Dayak bersama-sama dengan orang Toraja sebagai Proto Melayu yang membedakannya dengan suku yang lain sebagai Deutro Melayu. Benarkah penggolongan tersebut?

Sebagaimana tulisan saya sebelumnya, Batak, Dayak dan Melayu, suku Batak dan Dayak adalah suku baru yang diciptakan oleh para misionaris dan pemerintah kolonial Belanda. Oleh karenanya, secara etnis suku-suku ini beraneka ragam. Bahkan untuk suku Dayak, tergolong juga di dalamnya suku yang secara etnis sebenarnya cabang dari suku bangsa Melayu.

Dari segi bahasa, dalam daftar Bahasa Kalimantan di Wikipedia, terlihat ada kelompok penutur bahasa Melayu yang digolongkan orang Dayak, yakni kelompok penutur bahasa Malayic-Dayak dan penutur bahasa Melayu Bukit.

Bahasa Melayu Bukit

Wikipedia daftar bahasa Kalimantan menggolongkan bahasa Melayu Bukit sebagai salah satu varian bahasa Melayu lokal Kalimantan. Ada 7 varian bahasa Melayu lokal Kalimantan, yakni:
  1. Bahasa Melayu Kalimantan, meliputi dialek Pontianak, Landak, Sambas, Ketapang, Sarawaak dan Sabah.
  2. Bahasa Melayu Kokos yang dituturkan suku Cocos di Tawau, Sabah.
  3. Bahasa Melayu Banjar yang dituturkan suku Banjar di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.
  4. Bahasa Melayu Berau yang dituturkan suku Berau di Kalimantan Timur.
  5. Bahasa Melayu Bukit yang dituturkan suku (Dayak) Bukit/Meratus di Kalimantan Selatan.
  6. Bahasa Melayu Brunei yang dituturkan oleh suku Brunei di Brunei.
  7. Bahasa Melayu Kutai yang dituturkan oleh suku Kutai di Kalimantan Timur, terbagi atas dialek Tenggarong dan Kota Bangun.
Wikipedia Bahasa Bukit mengatakan bahwa Bahasa Bukit merupakan arkhais bahasa Banjar sebelum terpengaruh oleh bahasa Jawa. Dari segi bahasa, bahasa Bukit malah lebih memiliki persamaan dengan bahasa Melayu dibandingkan bahasa Banjar yang telah terkontaminasi bahasa Jawa, misalnya kata tawing pada bahasa Banjar, masih dinding pada bahasa Bukit, kata lawang pada bahasa Banjar, masih pintu pada bahasa Bukit, kata janar pada bahasa Banjar, masih kunyit pada bahasa Bukit, kata banih pada bahasa Banjar, masih padi pada bahasa Bukit dan kata anum pada bahasa Banjar, masih muda pada bahasa Bukit.

Bahasa Malayic-Dayak
Salah satu kelompok bahasa pada daftar bahasa Kalimantan di Wikipedia adalah kelompok bahasa Malayic Dayak yang terdiri 5 kelompok, yakni:
  1. Bahasa Ibanic/Dayak Laut meliputi bahasa Balau di Serawak, bahasa Iban yang dituturkan Suku Iban di Kalimantan Barat, Serawak dan Brunei, bahasa Milikin di Serawak, bahasa Mualang yang dituturkan suku Mualang di Sekadau Kalimantan Barat, bahasa Seberuang yang dituturkan suku Seberuang di Sintang Kalimantan Barat dan bahasa Sebuyau di Serawak.
  2. Bahasa Kenindal yang dituturkan di Melawi Kalimantan Barat.
  3. Bahasa Kendayan yang dituturkan di Sanggau Ledo Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat.
  4. Bahasa Selako yang dituturkan di Selakau Kabupaten Sambas Kalimantan Barat
  5. Bahasa Malayic-Dayak Kalimantan Barat dan Tengah meliputi bahasa Balai Riam di Sukamara, bahasa Bulik di Lamandau, bahasa Waringin di Kotawaringin Barat, bahasa Pembuang di Seruyan, bahasa Dayak Singkawang, bahasa Dayak Bengkayang, bahasa Dayak Sintang dan bahasa-bahasa dayak Kapuas Hulu.
Menilik kosa kata salah satu bahasa Malayik Dayak misalnya bahasa Iban merupakan deviasi dari bahasa Melayu pertengahan seperti kata makai untuk kata makan , bejalai untuk bejalan, pulai untuk kata pulang, udah untuk sudah, sereta untuk serta , datai untuk datang dan sebagainya dengan banyak yang masih bersamaan seperti sambil, berapa, patung, baju, kuda, pintu, sama, tukar, bujang berani dan sebagainya.

Bahasa Batak
Bahasa Batak Toba merupakan salah satu bahasa Austronesia yang masih mempertahankan sistem bilangan Austronesia Purba sebagaimana dituturkan bahasa-bahasa Nusantara abad ke-VII M yakni sada, dua, tolu, opat, lima, onom, pitu, ualu, sia, sampulu berbanding dengan sistem bilangan proto-Austronesia isa, duSa, telu, Sepat,lima, enem, pitu, walu, siwa, sapuluQ. Bahasa Melayu, Aceh dan Sunda telah mengubah angka 7,8 dan 9 yakni pada mulanya 9 jadi sa-alapan (salapan) dan 8 menjadi dua alapan (dalapan). Bahasa Sunda masih mempertahankan salapan dan dalapan. Bahasa Aceh mempertahankan lapan, bahasa Melayu delapan. Namun angka 9 pada Melayu menjadi sa-ambilan (sembilan) sedang pada Aceh jadi sikureueng. Kedua-duanya masih berarti sama dengan salapan yakni satu diambil dari sepuluh.
Ketiga bahasa ini, memperkenalkan angka tujuh atau tujoh untuk angka 7 dan khusus bahasa Melayu menggunakan kata tiga untuk telu, sementara Aceh dan Sunda masih menggunakan kosa kata lama yakni tilu oleh Sunda dan lhee oleh Aceh.

Bahasa Batak Toba menggunakan sistem imbuhan yang sama seperti bahasa Melayu Kuna yakni:
  1. mar- untuk ber-
  2. ni- untuk di-
  3. nipar- untuk diper-
  4. maN- untuk meN-
  5. ha- untuk ter-
  6. paN- untuk peN-
  7. -in- untuk -in-
Sebagaimana bahasa Melayu Kuna yang telah menyerap unsur bahasa Sanskerta, bahasa Toba pun juga menyerap kata Sanskerta seperti adanya kata-kata Guru, Dibata dan sebagainya.

Jadi, dari segi bahasa, orang Toba sebenarnya satu golongan yang sama dengan masyarakat Nusantara lain, ketika bangsa Hindu datang, sama seperti orang Nusantara Barat lain, yakni Jawa, Bali, Melayu Kuna, Sunda, Madura mereka pun sama-sama mengadaptasi kebudayaan Hindu dan melakukan pencampuran melalui perkawinan, hanya saja ketika tetangganya orang Melayu berkembang, masyarakat Toba dan kelompok Batak lain, mengalami kestatisan budaya dan baru mengalami dinamika lagi ketika pasukan padri dari Minangkabau dan para misionaris dari Jerman dan Belanda datang membangkitkan suku bangsa yang lama terpendam.
3 Comments
 
Batak di Malaysia dan Filipina 11/12/2011
0 Comments
 
Ichwan Azhari, Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed) pada situs karo.or.id menyatakan bahwa dari hasil penelitiannya terhadap arsip misionaris di Wuppertal, Jerman dan arsip KITLV Belanda  serta hasil wawancara pakar Batak di Jerman dan Belanda seperti Johan Angerler dan Lothar Schreiner menemukan bahwa kata Batak pada awalnya diambil para musafir/misionaris barat dari para penduduk pesisir.yang berkonotasi negatif dan cenderung menghina dengan pengertian kurang beradab, liar dan tinggal di hutan.

 Pada sumber-sumber manuskrip klasik yang ditelusurinya, seperti manuskrip abad 17 koleksi Leiden juga ditemukan kata Batak di kalangan orang Melayu di Malaysia.

Penyebutan itu sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Saat Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511), Puteri Gunung Ledang yang sangat dihina dan direndahkan oleh teks ini, melarikan diri ke hulu sungai dan dalam teks disebut : “masuk ke dalam hutan rimba yang amat besar hampir dengan negeri Batak.Maka diambil oleh segala menteri Batak itu, dirajakannya Puteri Gunung Ledang itu dalam negeri Batak itu.”

Tidak hanya di Malaysia, di Filipina juga penduduk pesisir menyebut penduduk pedalaman dengan streotip atau label negatif sebagai Batak.

Untuk itu menurut Ichwan, cukup punya alasan dan tidak mengherankan kalau peneliti Batak terkenal asal Belanda bernama Van der Tuuk pernah risau dan mengingatkan para misionaris Jerman agar tidak menggunakan nama Batak untuk nama etnik karena imej negatif yang terkandung pada kata itu.
Di Malaysia dan Filipina penduduk yang diberi label Batak tidak mau menggunakan label merendahkan itu menjadi nama etnik mereka, ujarnya.

Sedangkan di Sumatra Utara label itu terus dipakai karena peran misionaris Jerman dan pemerintah kolonial Belanda yang memberi konstruksi dan makna baru atas kata itu, ungkapnya.
Dalam penelitiannya di arsip misionaris Jerman di Wuppertal sejak bulan September 2011, Ichwan Azhari melihat para misionaris sendiri awalnya mengalami keragu-raguan untuk menggunakan kata Batak sebagai nama etnik.Jika dipersamakan dengan di eropa, kata Batak dalam istilah Melayu sebenarnya sama dengan kata Barbar dalam istilah eropa. Oleh karenanya, dengan kemajuan yang telah dicapai oleh orang Suku Asli Sumatera Utara (SASU) maka PELABELAN BATAK sudah seharusnya dikurangi.
Add Comment
 
Batak, Dayak dan Melayu 11/12/2011
0 Comments
 
Saat ini Batak dan Dayak telah diakui sebagai salah satu suku yang ada di Indonesia. Padahal dalam kenyataannya yang dikenal sebagai suku Batak dan Dayak tersebut sesungguhnya terdiri dari aneka suku. Sub-sub suku tersebut ada yang lebih dekat kekerabatannya dengan suku lain dibandingkan subsub suku Batak dan Dayak. Bagaimana terminologi suku ini menurut orang Melayu, suku yang dekat secara geografis dengan orang Batak/ Dayak?

Wikipedia Indonesia menyebutkan Suku Dayak adalah federasi/kumpulan dari berbagai subetnis Austronesia yang dianggap sebagai pendatang awal pulau Kalimantan (Sabah, Serawak, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan). Suku bangsa Dayak terbagi atas 6 rumpun, yakni:
  1. Klemantan/Kalimantan
  2. Iban
  3. Apokayan
  4. Kenyah dan Bahau
  5. Ot-Danum Ngaju
  6. Punan
Wikipedia Indonesia menyebutkan bahwa Batak adalah terma kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim di Tapanuli dan Sumatera Timur, di Sumatera Utara. Sukubangsa suku bangsa tersebut adalah:

  1. Batak Toba
  2. Karo
  3. Pakpak
  4. Simalungun
  5. Angkola
  6. Mandailing
Buku ANEKA RAGAM BUDAYA BATAK [Seri Dolok Pusuk Buhit-10] terbitan YAYASAN BINABUDAYA NUSANTARA TAOTOBA NUSABUDAYA, 2000 hal 31 menyebutkan Batak terdiri dari 11 subetnis, yakni:
  1. Batak Toba/Tapanuli
  2. Batak Simalungun
  3. Batak Karo
  4. Batak Mandailing
  5. Batak Pakpak
  6. Batak Pasisir
  7. Batak Angkola
  8. Batak Padang Lawas
  9. Batak Melayu
  10. Batak Nias
  11. Batak Alas Gayo


Munculnya nama Batak dan Dayak dalam khazanah perbendaharaan bahasa di Indonesia mengemuka pada zaman kolonial Belanda. Dalam kontrak yang dibuat dengan para sultan yang berkuasa, Belanda mengakui kedudukan sultan sebagai kepala penduduk yang beragama Islam, sebaliknya penduduk non-Islam langsung di bawah administrasi sipil Belanda. Pada mulanya, golongan ini hanyalah orang Timur Asing dan Eropa, namun lambat laun Belanda berhasil memasukkan kelompok penduduk asli. Untuk itulah istilah Batak dan Dayak perlu dimunculkan untuk membedakannya dengan penduduk kesultanan yang digolongkan orang Melayu.

Wikipedia Indonesia menyebutkan bahwa istilah Dayak pertama kali digunakan pada perjanjian antara Sultan Banjar dengan Hindia Belanda tahun 1826. Pada mulanya digunakan untuk menggantikan Biaju Besar (sungai Kahayan) dan Biaju Kecil (sungai Kapuas Murung), namun kemudian digunakan secara kolektif untuk menyebut penduduk asli setempat. Kata Biaju sendiri berasal dari kata bi yang berarti dari dan aju yang berarti hulu. Kata Daya menurut Lindblad berasal dari bahasa Kenyah yang berarti hulu. Kata Daya oleh penduduk Sambas dan Pontianak digunakan untuk penduduk rumpun Bidayuh yang kemudian disebut Dayak Darat yang dibedakan dengan rumpun Iban yang kemudian disebut Dayak Laut.

Tidak seperti kata Dayak yang asal usulnya secara etimologis masih mudah ditelusuri, kata Batak tidak diketahui kapan dan siapa yang memulai menggunakan untuk etnis-etnis di Sumatera Utara. RW Liddle dalam kutipan Wikipedia Indonesia menyebutkan bahwa sebelum abad 20 di Sumatera Utara tidak terdapat kelompok etnis sebagai kesatuan yang koheren. Menurut J. Pardede, istilah Batak merupakan istilah yang diciptakan oleh pihak asing. Sebaliknya Siti Omas Manurung mengatakan bahwa sebelum kedatangan Belanda, orang Karo dan Simalungun mengakui dirinya sebagai Batak. 

Dalam khazanah Melayu, Batak adalah satu dari 3 komunitas tidak lazim(terasing) yang hidup di sekitar lingkungan Melayu. Istilah Batak tidak diperuntukkan untuk menyebut kesatuan etnis tertentu, oleh karenanya di daerah Filipina misalnya wilayah kesultanan Sulu juga ada disebut orang Batak. Ke-3 komunitas tidak lazim tersebut adalah:
  1. Orang Laut. Orang Laut adalah yang tinggal di perahu atau mendirikan perkampungan temporer pada pesisir pulau yang belum dihuni orang Melayu. Orang Rakit adalah sebutan untuk orang laut di pesisir timur Sumatera yang pada masa lalu mungkin hidup di atas rakit. Kepercayaan mereka ada 3, kepercayaan asli Austronesia, yakni menyembah matahari. Penganut Budha adalah umumnya kepercayaan orang Laut yang merupakan sisa-sisa lasykar maritim kemaharajaan Melayu pra-Islam, tersebar di Laut Andaman, Johor dan Lingga/Indragiri. Agama ini menyebabkan mereka mudah bergaul dan nikah kawin dengan orang Cina sehingga orang Akit di Bagan misalnya disebut orang Cina Hitam. Penganut agama Islam pada orang Laut adalah komunitas orang laut terakhir yang terbentuk yang merupakan sisa-sisa lasykar maritim Riau Lingga yang tidak tunduk ke Belanda dan hidup dari melanun.
  2. Orang Hutan. Orang Hutan adalah komunitas yang hidup di hutan atau anak-anak sungai di sekitar pemukiman orang Melayu. Selain disebut orang hutan, pada beberapa tempat mereka memiliki nama sendiri, misalnya orang Delik, Sakai, Dayun, Bonai, Talang Mamak, Petalangan. Pada dasarnya orang Hutan adalah penganut agama Budha namun mantra-mantranya telah dimasuki unsur Islam misalnya diawali dengan kata Bismillah. Orang Hutan membedakan kepercayaannya dengan orang Melayu pada kenabian, di mana Nabi orang Melayu adalah Muhammad dan Nabi orang Hutan adalah Adam.
  3. Orang Gunung/Batak/Bukit. Orang Gunung atau pun orang batak disebutkan untuk orang-orang yang tinggal di perbukitan atau pun gunung--gunung. Karena keadaan gunung/bukit di pulau kecil-kecil umumnya berbatu-batu maka orang ini pun sering disebut orang Batu, Dari segi kepercayaan ada kelompok Batak yang penganut agama asli Austronesia, yakni menjalankan tradisi pengayauan.Kepala korban yang dipenggal mereka gunakan untuk sarana komunikasi dengan roh leluhur. Sebagian lagi adalah penganut ajaran Budha Tantraisme /Bhairawa yang melakukan kanibalisme. Pada malam hari mereka mempersembahkan tumpukan mayat manusia yang dibakar kepada para dewa. Untuk pemujaan besar, korban manusia hidup ditelentangkan. Seorang pendeta menusukkan pisau besar ke perut korban dan mengirisnya ke arah tulang rusuk bagian bawah. Jantung diambil, dan darah diperas ke dalam gelas tengkorak dan diminum sampai habis. Pendeta yang kemasukan menari-nari dan bersuara histeris. Selanjutnya diadakan ritual persetubuhan.
Dalam wawasan orang Melayu kampung (Melayu yang tidak pernah merantau), pandangan mereka untuk kedua kelompok komunitas tersebut adalah :

  1. Orang Hutan (dihaluskan Anak Dalam) dan orang Laut (dihaluskan orang Pulau) adalah komunitas yang sangat pemalu dan suka warna merah.
  2. Orang Batu adalah orang biadab, tidak tahu malu dan tidak bisa berbasa basi.
Dari negatifnya konotasi Batak tersebut, dapat kita maklumi kalau BELANDA pada ZAMAN DAHULU sengaja menggunakan kata Batak pada etnis Toba dan sekitarnya untuk membedakannya dengan masyarakat Melayu sehingga diharapkan garis pemisahan antara Melayu dan Batak tajam. Anehnya, referensi kata Batak tadi seakan-akan berakar dari etnis yang sekarang kita sebut Batak itu sendiri, terutama dari Suku Toba. Hanya, orang-orang non-Toba yang mulai banyak menolak pem-batak-an mereka.
Add Comment
 

    Author

    Ghobro adalah putra pauhranap riau. Menulis blog di hosting gratis tapi elegan.

    Archives

    December 2011
    November 2011
    October 2011

    Categories

    All
    Agama
    Bahasa
    Bakat
    Batak
    Bpjs
    Budaya
    Dayak
    Etnis
    Gereja
    Ham
    Hiburan
    Hukum
    Islamisasi
    Jamsos
    Kompetisi
    Kristenisasi
    Lampung
    Liga
    Melayu
    Olahraga
    Proto
    Pssi
    Rd
    Sepakbola

    RSS Feed


Create a free website with Weebly