• Home
  • Politik
  • Ekonomi
  • Sosial
  • Administrasi
  • Ghobro
  • Wiki Ghobro
Batak, Dayak dan Melayu 11/12/2011
0 Comments
 
Saat ini Batak dan Dayak telah diakui sebagai salah satu suku yang ada di Indonesia. Padahal dalam kenyataannya yang dikenal sebagai suku Batak dan Dayak tersebut sesungguhnya terdiri dari aneka suku. Sub-sub suku tersebut ada yang lebih dekat kekerabatannya dengan suku lain dibandingkan subsub suku Batak dan Dayak. Bagaimana terminologi suku ini menurut orang Melayu, suku yang dekat secara geografis dengan orang Batak/ Dayak?

Wikipedia Indonesia menyebutkan Suku Dayak adalah federasi/kumpulan dari berbagai subetnis Austronesia yang dianggap sebagai pendatang awal pulau Kalimantan (Sabah, Serawak, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan). Suku bangsa Dayak terbagi atas 6 rumpun, yakni:
  1. Klemantan/Kalimantan
  2. Iban
  3. Apokayan
  4. Kenyah dan Bahau
  5. Ot-Danum Ngaju
  6. Punan
Wikipedia Indonesia menyebutkan bahwa Batak adalah terma kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim di Tapanuli dan Sumatera Timur, di Sumatera Utara. Sukubangsa suku bangsa tersebut adalah:

  1. Batak Toba
  2. Karo
  3. Pakpak
  4. Simalungun
  5. Angkola
  6. Mandailing
Buku ANEKA RAGAM BUDAYA BATAK [Seri Dolok Pusuk Buhit-10] terbitan YAYASAN BINABUDAYA NUSANTARA TAOTOBA NUSABUDAYA, 2000 hal 31 menyebutkan Batak terdiri dari 11 subetnis, yakni:
  1. Batak Toba/Tapanuli
  2. Batak Simalungun
  3. Batak Karo
  4. Batak Mandailing
  5. Batak Pakpak
  6. Batak Pasisir
  7. Batak Angkola
  8. Batak Padang Lawas
  9. Batak Melayu
  10. Batak Nias
  11. Batak Alas Gayo


Munculnya nama Batak dan Dayak dalam khazanah perbendaharaan bahasa di Indonesia mengemuka pada zaman kolonial Belanda. Dalam kontrak yang dibuat dengan para sultan yang berkuasa, Belanda mengakui kedudukan sultan sebagai kepala penduduk yang beragama Islam, sebaliknya penduduk non-Islam langsung di bawah administrasi sipil Belanda. Pada mulanya, golongan ini hanyalah orang Timur Asing dan Eropa, namun lambat laun Belanda berhasil memasukkan kelompok penduduk asli. Untuk itulah istilah Batak dan Dayak perlu dimunculkan untuk membedakannya dengan penduduk kesultanan yang digolongkan orang Melayu.

Wikipedia Indonesia menyebutkan bahwa istilah Dayak pertama kali digunakan pada perjanjian antara Sultan Banjar dengan Hindia Belanda tahun 1826. Pada mulanya digunakan untuk menggantikan Biaju Besar (sungai Kahayan) dan Biaju Kecil (sungai Kapuas Murung), namun kemudian digunakan secara kolektif untuk menyebut penduduk asli setempat. Kata Biaju sendiri berasal dari kata bi yang berarti dari dan aju yang berarti hulu. Kata Daya menurut Lindblad berasal dari bahasa Kenyah yang berarti hulu. Kata Daya oleh penduduk Sambas dan Pontianak digunakan untuk penduduk rumpun Bidayuh yang kemudian disebut Dayak Darat yang dibedakan dengan rumpun Iban yang kemudian disebut Dayak Laut.

Tidak seperti kata Dayak yang asal usulnya secara etimologis masih mudah ditelusuri, kata Batak tidak diketahui kapan dan siapa yang memulai menggunakan untuk etnis-etnis di Sumatera Utara. RW Liddle dalam kutipan Wikipedia Indonesia menyebutkan bahwa sebelum abad 20 di Sumatera Utara tidak terdapat kelompok etnis sebagai kesatuan yang koheren. Menurut J. Pardede, istilah Batak merupakan istilah yang diciptakan oleh pihak asing. Sebaliknya Siti Omas Manurung mengatakan bahwa sebelum kedatangan Belanda, orang Karo dan Simalungun mengakui dirinya sebagai Batak. 

Dalam khazanah Melayu, Batak adalah satu dari 3 komunitas tidak lazim(terasing) yang hidup di sekitar lingkungan Melayu. Istilah Batak tidak diperuntukkan untuk menyebut kesatuan etnis tertentu, oleh karenanya di daerah Filipina misalnya wilayah kesultanan Sulu juga ada disebut orang Batak. Ke-3 komunitas tidak lazim tersebut adalah:
  1. Orang Laut. Orang Laut adalah yang tinggal di perahu atau mendirikan perkampungan temporer pada pesisir pulau yang belum dihuni orang Melayu. Orang Rakit adalah sebutan untuk orang laut di pesisir timur Sumatera yang pada masa lalu mungkin hidup di atas rakit. Kepercayaan mereka ada 3, kepercayaan asli Austronesia, yakni menyembah matahari. Penganut Budha adalah umumnya kepercayaan orang Laut yang merupakan sisa-sisa lasykar maritim kemaharajaan Melayu pra-Islam, tersebar di Laut Andaman, Johor dan Lingga/Indragiri. Agama ini menyebabkan mereka mudah bergaul dan nikah kawin dengan orang Cina sehingga orang Akit di Bagan misalnya disebut orang Cina Hitam. Penganut agama Islam pada orang Laut adalah komunitas orang laut terakhir yang terbentuk yang merupakan sisa-sisa lasykar maritim Riau Lingga yang tidak tunduk ke Belanda dan hidup dari melanun.
  2. Orang Hutan. Orang Hutan adalah komunitas yang hidup di hutan atau anak-anak sungai di sekitar pemukiman orang Melayu. Selain disebut orang hutan, pada beberapa tempat mereka memiliki nama sendiri, misalnya orang Delik, Sakai, Dayun, Bonai, Talang Mamak, Petalangan. Pada dasarnya orang Hutan adalah penganut agama Budha namun mantra-mantranya telah dimasuki unsur Islam misalnya diawali dengan kata Bismillah. Orang Hutan membedakan kepercayaannya dengan orang Melayu pada kenabian, di mana Nabi orang Melayu adalah Muhammad dan Nabi orang Hutan adalah Adam.
  3. Orang Gunung/Batak/Bukit. Orang Gunung atau pun orang batak disebutkan untuk orang-orang yang tinggal di perbukitan atau pun gunung--gunung. Karena keadaan gunung/bukit di pulau kecil-kecil umumnya berbatu-batu maka orang ini pun sering disebut orang Batu, Dari segi kepercayaan ada kelompok Batak yang penganut agama asli Austronesia, yakni menjalankan tradisi pengayauan.Kepala korban yang dipenggal mereka gunakan untuk sarana komunikasi dengan roh leluhur. Sebagian lagi adalah penganut ajaran Budha Tantraisme /Bhairawa yang melakukan kanibalisme. Pada malam hari mereka mempersembahkan tumpukan mayat manusia yang dibakar kepada para dewa. Untuk pemujaan besar, korban manusia hidup ditelentangkan. Seorang pendeta menusukkan pisau besar ke perut korban dan mengirisnya ke arah tulang rusuk bagian bawah. Jantung diambil, dan darah diperas ke dalam gelas tengkorak dan diminum sampai habis. Pendeta yang kemasukan menari-nari dan bersuara histeris. Selanjutnya diadakan ritual persetubuhan.
Dalam wawasan orang Melayu kampung (Melayu yang tidak pernah merantau), pandangan mereka untuk kedua kelompok komunitas tersebut adalah :

  1. Orang Hutan (dihaluskan Anak Dalam) dan orang Laut (dihaluskan orang Pulau) adalah komunitas yang sangat pemalu dan suka warna merah.
  2. Orang Batu adalah orang biadab, tidak tahu malu dan tidak bisa berbasa basi.
Dari negatifnya konotasi Batak tersebut, dapat kita maklumi kalau BELANDA pada ZAMAN DAHULU sengaja menggunakan kata Batak pada etnis Toba dan sekitarnya untuk membedakannya dengan masyarakat Melayu sehingga diharapkan garis pemisahan antara Melayu dan Batak tajam. Anehnya, referensi kata Batak tadi seakan-akan berakar dari etnis yang sekarang kita sebut Batak itu sendiri, terutama dari Suku Toba. Hanya, orang-orang non-Toba yang mulai banyak menolak pem-batak-an mereka.
 


Comments




Leave a Reply

    Author

    Ghobro adalah putra pauhranap riau. Menulis blog di hosting gratis tapi elegan.

    Archives

    December 2011
    November 2011
    October 2011

    Categories

    All
    Agama
    Bahasa
    Bakat
    Batak
    Bpjs
    Budaya
    Dayak
    Etnis
    Gereja
    Ham
    Hiburan
    Hukum
    Islamisasi
    Jamsos
    Kompetisi
    Kristenisasi
    Lampung
    Liga
    Melayu
    Olahraga
    Proto
    Pssi
    Rd
    Sepakbola

    RSS Feed


Create a free website with Weebly