Kalau kita membaca banyak buku yang beredar dan blog yang online tentang Batak dan Dayak, maka kita akan sering menjumpai penggolongan orang Batak dan Dayak bersama-sama dengan orang Toraja sebagai Proto Melayu yang membedakannya dengan suku yang lain sebagai Deutro Melayu. Benarkah penggolongan tersebut? Sebagaimana tulisan saya sebelumnya, Batak, Dayak dan Melayu, suku Batak dan Dayak adalah suku baru yang diciptakan oleh para misionaris dan pemerintah kolonial Belanda. Oleh karenanya, secara etnis suku-suku ini beraneka ragam. Bahkan untuk suku Dayak, tergolong juga di dalamnya suku yang secara etnis sebenarnya cabang dari suku bangsa Melayu. Dari segi bahasa, dalam daftar Bahasa Kalimantan di Wikipedia, terlihat ada kelompok penutur bahasa Melayu yang digolongkan orang Dayak, yakni kelompok penutur bahasa Malayic-Dayak dan penutur bahasa Melayu Bukit. Bahasa Melayu Bukit Wikipedia daftar bahasa Kalimantan menggolongkan bahasa Melayu Bukit sebagai salah satu varian bahasa Melayu lokal Kalimantan. Ada 7 varian bahasa Melayu lokal Kalimantan, yakni:
Bahasa Malayic-Dayak Salah satu kelompok bahasa pada daftar bahasa Kalimantan di Wikipedia adalah kelompok bahasa Malayic Dayak yang terdiri 5 kelompok, yakni:
Bahasa Batak Bahasa Batak Toba merupakan salah satu bahasa Austronesia yang masih mempertahankan sistem bilangan Austronesia Purba sebagaimana dituturkan bahasa-bahasa Nusantara abad ke-VII M yakni sada, dua, tolu, opat, lima, onom, pitu, ualu, sia, sampulu berbanding dengan sistem bilangan proto-Austronesia isa, duSa, telu, Sepat,lima, enem, pitu, walu, siwa, sapuluQ. Bahasa Melayu, Aceh dan Sunda telah mengubah angka 7,8 dan 9 yakni pada mulanya 9 jadi sa-alapan (salapan) dan 8 menjadi dua alapan (dalapan). Bahasa Sunda masih mempertahankan salapan dan dalapan. Bahasa Aceh mempertahankan lapan, bahasa Melayu delapan. Namun angka 9 pada Melayu menjadi sa-ambilan (sembilan) sedang pada Aceh jadi sikureueng. Kedua-duanya masih berarti sama dengan salapan yakni satu diambil dari sepuluh. Ketiga bahasa ini, memperkenalkan angka tujuh atau tujoh untuk angka 7 dan khusus bahasa Melayu menggunakan kata tiga untuk telu, sementara Aceh dan Sunda masih menggunakan kosa kata lama yakni tilu oleh Sunda dan lhee oleh Aceh. Bahasa Batak Toba menggunakan sistem imbuhan yang sama seperti bahasa Melayu Kuna yakni:
Jadi, dari segi bahasa, orang Toba sebenarnya satu golongan yang sama dengan masyarakat Nusantara lain, ketika bangsa Hindu datang, sama seperti orang Nusantara Barat lain, yakni Jawa, Bali, Melayu Kuna, Sunda, Madura mereka pun sama-sama mengadaptasi kebudayaan Hindu dan melakukan pencampuran melalui perkawinan, hanya saja ketika tetangganya orang Melayu berkembang, masyarakat Toba dan kelompok Batak lain, mengalami kestatisan budaya dan baru mengalami dinamika lagi ketika pasukan padri dari Minangkabau dan para misionaris dari Jerman dan Belanda datang membangkitkan suku bangsa yang lama terpendam. Commentsnusantara 03/03/2012 06:54
sepakat
Reply
soffy 03/28/2012 07:35
ah nggak juga ah ... terlalu sederhana menyimpulkannya
Reply
galus 04/08/2012 09:44
kalau mau rumit-rumit, skripsi dong bu
Reply
Leave a Reply | AuthorGhobro adalah putra pauhranap riau. Menulis blog di hosting gratis tapi elegan. ArchivesDecember 2011 CategoriesAll |

RSS Feed